Can You Hear Me ?

16 Des

Can You Hear Me ?
Casts :
Big Bang - 2NE1
Rating :
G – PG 13
Genre :
Romance, Angst

+++

Byul dan mimpinya.

Namaku Park Byul. Aku memiliki kakak perempuan bernama Park Bom. Selama ini, aku selalu iri pada kakakku. Aku memiliki banyak alasan untuk iri pada Bom unnie. Salah satunya adalah karena pria bernama Choi Seunghyun. Bom unnie bisa dekat dengan Seunghyun oppa dengan mudah.

Sedangkan aku ?

Aku memiliki beberapa kekurangan. Aku sakit. Kanker paru – paru. Aku juga dilahirkan tanpa suara. Sedangkan Bom unnie ? Unnie memiliki suara yang sangat indah. Suara yang bisa ia banggakan saat ia berbicara pada Seunghyun oppa.

Aku selalu jauh dari Seunghyun oppa. Ketika aku mendekat, apakah Seunghyun oppa akan menerimaku ? Aku benar – benar khawatir dengan reaksinya ketika ia tahu aku berusaha mendekatinya.
Terkadang, ketika aku benar – benar dalam kondisi lemah sehingga aku terpaksa tidak masuk kuliah, aku suka menulis puisi terkadang lirik lagu dan memainkan piano.

Isi puisi dan lirik lagu yang kutulis biasanya tidak jauh beda dari perasaanku..

Ketika raga melemah
Tidak bisa mengungkapkan rasa sakit dengan kata – kata
Aku ingin kau berada di sampingku
Menghiburku

Ketika hati aku terjatuh
Tidak bisa berdiri lagi
Aku ingin kau berada di belakangku
Mendorongku agar terus berjalan

Ketika aku tersesat
Dan tidak bisa mencari jalan keluar
Aku ingin kau berada di depanku
Membimbingku

Ketika aku kesepian
Larut dalam kesunyian yang dalam
Aku ingin kau berada di sisiku
Menemaniku

Tetapi..
Aku tidak bisa menggapaimu
Mungkin karena kau terlalu jauh
Atau karena aku yang tidak pernah maju

Aku meletakkan pensilku dan meraih gelas untuk minum.

DEG.

Argh. Rasa sakit ini lagi. Aku merasa seperti paru – paruku dihantam dengan batu yang sangat besar. Tanganku bergerak kedepan mulutku untuk menutup mulutku. Tubuhku terus berguncang.

Cairan merah kental menetes dari mulutku dan aku menadahnya dengan kedua tanganku. Tubuhku terus berguncang dan cairan merah tersebut tidak henti – hentinya menetes dari mulutku.
Aku tersenyum getir. Aku tidak pernah separah ini sebelumnya. Apakah ini tandanya waktuku tiba ?

“Omo.. BYUL !” pekik Bom unnie.

Seiri apapun aku pada gadis yang berada di depanku ini, aku tidak bisa membencinya.

“Umma !! Umma !!!”

DRAP. DRAP. DRAP.

“Omo, Byullie !!” umma berteriak dari depan pintu.

Umma langsung menghampiriku dan membuka laci obatku. Di belakang umma, aku melihat sosok yang sangat kucintai, Seunghyun oppa. Aish.. Mengapa ia harus melihatku dalam kondisi seperti ini ?

“Seunghyun-ah, bisakah kau ambilkan air hangat di bawah ?” pinta Bom unnie.

Seunghyun oppa mengangguk dengan segera ia langsung berlari ke lantai satu.

“Byul-ah !”

Umma membersihkan bekas darah dari bibir, dagu dan telapak tanganku. Umma membuka bungkusan obat dengan tangan bergetar.
Dengan kondisiku yang begini, aku hanya menyakiti umma, appa dan unnie.

Tubuhku terus berguncang dan darah masih saja mengalir dari mulutku. Sakit.. Sakit..

“Ini air hangatnya..”
“Gomawo, Seunghyun-ah..” ujar Bom unnie.

Umma meminumkanku air hangat. Air hangat tersebut bercampur dengan asinnya darahku. Tanpa kusadari, sebutir obat telah masuk ke dalam kerongkonganku. Perlahan – lahan tubuhku berhenti berguncang dan pandanganku gelap.

Aku masih merasakan sakit. Namun, sakit yang kurasakan bukan karena penyakitku.. Tapi karena aku melihat Bom unnie sangat dekat dengan Seunghyun oppa.

+++

Kematian
Suatu kejadian yang harus semua orang hadapi pada akhirnya
Percuma saja jika ingin menghindari kematian
Karena pada akhirnya kau akan menyerahkan dirimu pada kematian

Kematian
Kejadian dimana kita harus melompat ke dalam kegelapan tiada akhir
Kejadian dimana kita akan membeku dalam waktu
Kejadian dimana kita harus mengucapkan selamat tinggal

Namun ada saatnya ketika kematian akan menjemputmu
Dan kau harus mengucapkan selamat tinggal
Aku terus bertanya – tanya pada diriku sendiri
Apakah aku siap mengucapkan selamat tinggal ?

“Byul-ah ?”

Dengan panik aku segera menyembunyikan buku harianku. Bom unnie tersenyum usil.

“Hayo, apa yang kau sembunyikan ?” tanya Bom unnie.

Aku menggeleng cepat. Namun, Bom unnie telah melompat ke atas tempat tidurku.

“Byul-ah..” rengek Bom unnie.
‘Seharusnya aku yang menggunakan aegyo padamu..’ ujarku dengan
bahasa isyarat.

Bom unnie tertawa kecil.

“Byul-ah..” panggil Bom unnie.
“Menurutmu Seunghyun itu bagaimana ? Apakah dia baik ?” lanjut Bom unnie.

DEG.

Aku merasakan suatu rasa sakit yang menyengat di dadaku.

“Aku ingin dengar pendapatmu tentang dia” gumamnya.

Aku menelan ludah.

Apa yang harus kukatakan ?

‘Seunghyun-oppa adalah laki – laki yang baik. Dia juga kelihatan.. Sedikit protektif..’

Bom unnie tersenyum puas.

“Aku senang kau menyukainya..” ujarnya.

Aku lupa bilang..

Bom unnie baru saja lulus kuliah, namun belum bisa menemukan pekerjaan yang cocok untuknya. Akhirnya ia memutuskan untuk mengambil kerja sambilan di sebuah café. Dari café itulah Bom unnie bertemu dengan Seunghyun oppa yang merupakan pelanggan tetap café itu.

Seunghyun oppa sendiri adalah anak dari seorang pengusaha kaya. Bahkan diumurnya yang sangat muda, Seunghyun oppa telah menjadi general manager di perusahaan ayahnya. Ia mendapat jabatannya bukan karena ia anak dari pemilik perusahaan. Seunghyun oppa menyandang jabatan tersebut karena kerja kerasnya selama bertahun 3 tahun.

Bom unnie berumur 24 tahun sedangkan Seunghyun oppa 25. Jarak usiaku dan usia Seunghyun oppa hanya terpaut 4 tahun. Selain Seunghyun oppa, Bom unnie juga memiliki seorang teman pria lagi bernama Dong Youngbae oppa. Namun, Youngbae oppa lebih sering dipanggil Taeyang oppa. Taeyang oppa berusia 26 tahun.

Taeyang oppa sendiri merupakan pemilik saham terbesar di perusahaan yang-aku-lupa-namanya-apa. Sudah berkali – kali Taeyang oppa menawarkan pekerjaan menjadi sekretarisnya pada Bom unnie, namun Bom unnie tidak pernah mengiyakan tawaran—yang menurutku lebih tepat dikatakan permintaan— Taeyang oppa.

“Byul, apa kau mendengarkan ?” tanya Bom unnie seraya mengibaskan telapak tangannya di depan wajahku.

Aku meringis.

“Aku tidak akan mengulang perkataanku, Byul-ah..”

Aku memandang Bom unnie dengan tatapan memohon. Bom unnie memutar bola matanya kesal.

“Aku tidak bisa bilang tidak pada mata itu..”

Aku tersenyum penuh kemenangan..

“Kalau Taeyang oppa bagaimana ?” tanya Bom unnie.

Aku berpikir sebentar. Taeyang oppa memang baik, tampan, suaranya indah.. Dan perlakuannya terhadap Bom unnie sangat manis. Sedangkan ketika Bom unnie bersama Seunghyun oppa, mereka lebih sering terlihat saling memukul atau tertawa terbahak – bahak.

Apa Bom unnie dan Seunghyun oppa begitu karena mereka lebih akrab ?

‘Taeyang oppa adalah seorang gentleman’ ucapku.

Bom unnie tersenyum puas.

Aku menyimpulkan bahwa sedang terjadi cinta segitiga diantara mereka bertiga. Dimana Bom unnie diperebutkan oleh Taeyang oppa dan Seunghyun oppa.

Esoknya, aku dibawa ke rumah sakit untuk terapi mingguan ditemani appa.

“Byul-sshi sudah dalam keadaan stabil. Sel kankernya pasca operasi juga sudah mulai berkurang. Dan sebenarnya batuk darah seminggu pasca-operasi itu normal. Namun, ketika Byul-sshi masih batuk darah dalam kurun waktu dua minggu ke depan, mohon cepat di bawa ke rumah sakit..” terang sang dokter.

Drrt.. Drrt..

From : Unknown Number
Byul-sshi.. Ini Choi Seunghyun. Kau punya waktu siang ini ?

Aku hampir melompat kesenangan membaca sebuah pesan singkat tersebut.

To : Seunghyun oppa~
Mungkin. Waeyo ?

From : Seunghyun oppa~
Aku ingin mengajakmu makan siang bersama jam satu nanti. Kau tidak punya jadwal kuliah hari ini kan ?

To : Seunghyun oppa~
Dimana ?

From : Seunghyun oppa~
Di restoran dekat kantorku saja bagaimana ? Kau tidak keberatan bukan ? Kalau keberatan, aku bisa menjemput dan mengantarmu pulang..

To : Seunghyun oppa~
Tidak. Kebetulan sekarang aku berada di dekat kantor oppa. Bersama siapa saja ?

From : Seunghyun oppa~
Berdua saja. Kau dan aku. Kau tidak keberatan, bukan ?
Jantungku hampir saja melompat keluar dari dalam tulang rusukku. Tentu saja aku tidak keberatan !

To : Seunghyun oppa~
Aku tidak keberatan, oppa.
Ahh, senangnya..

“Byul-ah, ada apa ? Dari tadi kau senyum – senyum sendiri dan terus – terusan menatap layar telepon genggammu..” ujar appa curiga.
‘Appa, bisakah antarkan aku ke restoran di ujung blok ? Aku ada janji dengan seorang teman..’ ucapku dengan bahasa isyarat.
“Byul-sshi.. Restoran di ujung blok itu restoran daging panggang. Kau belum boleh makan yang seperti itu..” timpal dokter.

Aku menunduk sedih.

‘Kalau begitu aku tidak makan ! Aku hanya menemaninya makan..’ ujarku bersikeras.

Dokter tersebut mengangguk mengerti. Appa menyanggupi permintaanku.

“Byul-sshi !” panggil seseorang.

Aku segera menoleh begitu juga dengan appa.

“Annyeong, Park Ahjusshi..” sapa Seunghyun oppa seraya membungkukan badannya sopan.

“Byul-ah.. Jadi ini temanmu ?” tanya appa

Aku mengangguk malu. Appa tersenyum.

“Baiklah, sekarang appa tinggal dulu. Jika kau mau pulang, beritahu appa..” ujar Appa.

Aku mengangguk.

“Ne. Sekarang appa pergi dulu. Annyeong, Byul-ah. Annyeong, Seunghyun”

Aku melambaikan tanganku.

“Byul-sshi..” panggil Seunghyun oppa.
‘Byul saja sudah cukup..’ isyaratku.
Tunggu, apakah Seunghyun oppa mengerti ?
“Baik, Byul..”

Ternyata ia mengerti.
“Kau terkejut ya ?” tanyanya bangga.

Aku mengangguk seraya tertawa kecil.

“Aku khusus belajar bahasa isyarat khusus demi kamu, Byul. Walaupun aku belum bisa sepenuhnya..” ujar Seunghyun oppa seraya meringis.
‘Sungguh, oppa ? Gomawoyo~’

Seunghyun oppa mengangguk dan tersenyum manis.

“Ayo kita pergi makan !” ujar Seunghyun oppa.
Seunghyun oppa meraih tanganku dan menggandengnya menjauh dari restoran yang dimaksud Seunghyun oppa. Aku menarik tanganku pelan.
‘Oppa, katanya oppa ingin makan di restoran ini..’ isyaratku.
“Aku dengar kau baru saja selesai operasi jadi tidak boleh makan makanan yang seperti itu..” ujar Seunghyun oppa.

DEG.

Perasaan menggelitik muncul di dalam perutku. Ternyata oppa tahu soal ini dan bahkan ia tidak keberatan untuk mencari restoran lain.

“Ayo kita cari restoran yang makanannya dimasak dengan cara direbus atau dikukus !” ujar Seunghyun oppa riang.

Mengapa Seunghyun oppa melakukan ini semua ?

Atas dasar rasa kasihan, batinku menjawab.

Aku menunduk sedih dan membiarkan aku dituntun oleh Seunghyun oppa. Kami sampai di depan sebuah restoran dan masuk ke dalamnya.

“Kau mau makan apa ?” tanya Seunghyun oppa dengan tatapan lembut.

Aku membaca menunya. Semua yang ada disini adalah sayur – sayuran rebus dan beberapa makanan tumis yang menggunakan olive oil.

‘Oppa.. Oppa yakin makan di sini ? Oppa bisa makan sayuran rebus ?’ tanyaku.
“Tentu saja. Kau jangan khawatir.. Aku ingin kau menikmati makan siang ini” jawab Seunghyun oppa.

Mataku berbinar sedikit mendengar ucapan Seunghyun oppa.

Apakah aku boleh berharap ?

‘Oppa, aku pesan ini saja..’ ucapku seraya menunjuk sebuah gambar di buku menu.
“Permisi~” Seunghyun oppa memanggil seorang pelayan.
“Ada yang bisa saya bantu ?”
“Aku ingin pesan yang ini dua..” ujar Seunghyun oppa.

Lima belas menit kemudian, pesanan kami datang.

“Selamat menikmati” ujar sang pelayan.

Kami makan dalam diam. Tentu saja, karena aku tidak mungkin memulai pembicaraan.

“Bagaimana kuliahmu, Byul ?” tanya Seunghyun oppa.
‘Aku sedang sibuk menyusun skripsi. Kalau pekerjaan oppa ?’
“Hmm.. Karena sebentar lagi liburan akan tiba, perusahaanku menjadi sedikit sibuk..”
‘Oh.. Hwaiting oppa !’ isyaratku seraya ber-aegyo.

Aegyo ini aku pelajari dari Bom unnie.

“Gomawoyo” ujar Seunghyun oppa dengan senyum hangat.

Tangan besar Seunghyun oppa mengacak – acak rambutku.

“Kau tahu, Byul.. Kau sangatlah cantik. Namamu juga indah.. Byul berarti bintang bukan ?”

Aku mengangguk.

“Nama itu benar – benar cocok untukmu.. Orang tuamu ahli dalam
memberi nama.. Mungkin nanti aku harus minta saran orangtuamu..” gurau Seunghyun oppa.

Aku tersenyum kecil.

“Kau bagaikan bintang, kau tahu ? Matamu bersinar, wajahmu yang cantik dan hatimu yang baik..”

Aku yakin wajahku pasti sangat sangat merah.

“Ehem.. Kau menikmati makan siangmu, Byul ?” Aku mengangguk.
“Baik, setelah makan siang ini.. Ayo kita ke taman ria !”

Aku mengangkat kepalaku terkejut.

‘Pekerjaan oppa ?’’

Seunghyun oppa mengibaskan tangannya.

“Itu bisa diurus.. Lagipula.. Kapan lagi aku bisa bersamamu hanya berdua saja ?”

Aku menundukkan kepalaku. Berusaha menyembunyikan wajahku yang memerah.

“Kau sudah selesai makan ?”

Aku menggeleng dan kembali menghabiskan makananku. Seunghyun oppa ingin menghabiskan hari bersamaku ? Bagaimana dengan Bom unnie ? Mungkin Seunghyun oppa ingin menghabiskan waktu denganku karena ingin tahu lebih banyak tentang Bom unnie…
Begitulah pada akhirnya, aku menghabiskan waktuku dengan Seunghyun oppa. Nama Bom unnie sama sekali tidak meluncur keluar dari bibir Seunghyun oppa.

Seunghyun oppa mengantarkanku sampai ke rumah. Setelah berpamitan dengan umma—kebetulan hanya umma yang sedang berada di rumah—ia menuju ke mobilnya. Pada punggungnya yang menjauh aku membisikkan..

“Seunghyun oppa, saranghae..”

Ketika aku selesai membisikkan kata – kata tersebut, Seunghyun oppa terhenti sejenak. Lalu ia kembali berjalan.
Apa ia mendengarku ?

+++

Beberapa hari kemudian..

Entah sudah keberapa kalinya ini terjadi. Ketika aku tidur, aku sering merasa ada sesuatu yang mengendap di dalam paru – paruku. Nafasku berhenti. Darah di seluruh tubuhku mengalir makin cepat.

Aku berusaha untuk bangun dan berdiri. Tanganku menggapai nightstand di samping tempat tidurku, saat aku berhasil duduk aku merasa kepalaku sangat berat. Ugh.. Aku mencoba berdiri dengan tanganku yang bertumpu pada nightstand-ku.

BRUK. PRANG.

Ahh.. Aku memecahkan gelas yang berada di nightstand-ku. Pecahan gelas tersebut menggores telapak kakiku..

Tolong.. Seseorang, tolong..

“Omona ! Byul !”

DRAP. DRAP. DRAP.

“BYUL !”
“Byullie, bangun !!”

Ugh.. Aku merasa tubuhku diangkat dan dibaringkan ke tempat tidurku.
Aku membuka kelopak mataku yang terasa sangat sangat berat. Umma ? Appa ? Unnie ? Apa yang mereka lakukan tengah malam seperti ini di kamarku.

“Byul, omo.. Umma tidak tahu kau pingsan.. Dan lihat kakimu..” ujar umma.

Aku merasakan sengatan perih di telapak kakiku. Oh ya, aku ingat.. Pecahan kaca menggores telapak kakiku..

“Lain kali unnie akan tidur bersamamu, Byul !” ujar Bom unnie merasa bersalah.
‘Tadi malam aku merasa sesak..’ isyaratku.
‘Aku ingin memanggil kalian, tapi aku..’ lanjutku.
“Omo.. Unnie akan tidur bersamamu mulai besok !” ujar Bom unnie.

Aku benar – benar pingsan ? Ketika aku bangun tadi masih tengah malam.. Sekarang, matahari telah bersinar cerah.. Ah, iya.. Aku pingsan..

“Byullie…”

Aku mengangkat kepalaku, mataku bertemu dengan mata Bom unnie. Bom unnie menyodorkan obat.
Aku mengambil obat tersebut dan menelannya. Apa aku tidak bisa bertahan tanpa obat ?

“Hari ini Taeyang oppa dan Seunghyun oppa akan datang..”

Mataku berbinar..

“Kau tahu.. Akhirnya aku menerima pekerjaan yang di tawarkan Taeyang padaku !” seru Bom unnie.
‘Aku turut bahagia~!!’
“Taeyang memang seorang gentleman, kau tahu ? Haaahh..”

Aku mengangguk tanda setuju. Apakah artinya Bom unnie tidak menyukai Seunghyun oppa ? Tapi jika Bom unnie tidak menyukai Seunghyun oppa tidak berarti Seunghyun oppa tidak menyukai Bom unnie.. Baiklah.. Apa yang sedang aku pikirkan ?

“Byul, kau punya nomor teleponnya Seunghyun ?” aku mengangguk.
“Bagus~”

Mungkin aku terlalu pesimis. Tapi, mengapa aku selalu mempunyai firasat bahwa waktuku akan tiba ?

Can You Hear Me ?
End

a/n : failed angst :( okaayy, para bininya Taeyang, jangan bunuh saia, okeeehh ? XD ini ada sekuelnya lho~ :DDDD

Breaking

6 Okt

Breaking

Casts :
BEAST/B2ST

Pairing :
Yoon Doojoon and Fictional Girl

Genre :
Romance, Angst

Rating :
General – PG 13

“Aku menyukainya…” ucap Jae-hoon.

Beberapa temanku menjerit mendengar pernyataan Jae-hoon. Kecuali aku. Aku memang tidak terbiasa menjadi histeris. Tapi, ini adalah sebuah kabar baik. Terutama bagi Jae-hoon.

Setelah berkali – kali ia disakiti akhirnya ia bisa membuka hatinya kembali.

“Oh ya ? Yang mana dia ?” tanyaku.

Jae-hoon tersenyum malu mendengar pertanyaanku. Ia mengajakku untuk pergi ke hall depan di sekolah. Tempat dimana beberapa anak laki – laki akan menghabiskan waktu istirahatnya dengan bermain tenis meja.

“Itu, yang lagi pegang bat tenis meja..” ujarnya sambil bersembunyi di belakangku.

Disana dia. Seorang anak laki – laki dengan senyum kemenangannya karena ia berhasil mengalahkan temannya.

“Waw.. Dia kan adik kelas..” komentarku.
“Iya, berondong gitu~” ujarnya.
“Iiih.. Jijiknya..” sinisku.

Memang, aku selalu menentang hubungan antara perempuan yang lebih tua dengan laki – laki yang lebih muda. Mengapa ? Karena laki – laki yang lebih muda sangat labil dan masih membutuhkan bimbingan.

Bagaimana jika si laki – laki tidak bisa melindungi kekasihnya ?

“Heh ! Enak aja.. Dia ganteng tau !” bela Jae-hoon.
“Biasa aja deh..” ujarku cuek.

Jae-hoon terdiam.

“Pokoknya dia keren !” ujar Jae-hoon.

Aku hanya menghela nafas sambil memperhatikan anak yang tadi ditunjuk oleh Jae-hoon. Ia tidak terlalu tinggi—bahkan aku lebih tinggi daripada dia. Iya sih, aku memang paling tinggi diantara teman – temanku yang perempuan—matanya bulat, hidungnya mancung, bibirnya agak tebal.. Hemm…

Oke, dia kuberi nilai 7,5 dari 10.

+++

“Aku mulai SMS-an dengannya lho !” pamer Jae-hoon.

Jae-hoon tidak bisa menyembunyikan senyumnya. Aku tahu, ia pasti sangat senang. Aku mengerti perasaannya. Aku juga sangat senang ketika mendapatkan nomor telepon orang yang kusukai. Apalagi ketika hubungan SMS tersebut berkembang menjadi hubungan yang lebih. Namun, dalam kamus hidupku, kisah cintaku tidak selalu berakhir bahagia. Aku akhirnya menjadi pacar seseorang yang sangat aku sukai namun ia malah mempermainkanku. Kami hanya berpacaran selama 10 jam lalu ia memutuskanku.

Setelah itu, ia kutinggalkan untuk berlibur. Ternyata tidak lama setelah aku putus dengannya, ia malah mendekati perempuan lain. Laki – laki bajingan. Ternyata pernyataan seorang bijak itu benar. Laki – laki hanya ada dua macam. Laki – laki bajingan dan laki – laki homo.[no offense]

“Oh yaa ? Ceritaaaa~” rengekku. Aku turut gembira untuknya.

Akhirnya ia bercerita padaku bagaimana ia mendapatkan nomor teleponnya.

+++

“Dia jahat sekali ! Ketika aku mengiriminya pesan, ia tidak membalas ! Huh, dia itu..”

Sekarang aku mengerti mengapa Jae-hoon sangat kesal pada Doo-joon, si adik kelas yang Jae-hoon sukai. Bagaimana tidak kesal ? Jae-hoon selalu mengirimi Doo-joon SMS namun tidak pernah dibalas.

“Bagaimana kalau ia sudah pacaran dengan temannya yang itu !” sewot Jae-hoon.

Langsung, aku teringat beberapa perempuan yang sering bermain dengannya. Hee-kyo dan Seo-mi. Tunggu, bukannya Hee-kyo telah berpacaran dengan Jung Tae-woo ? Berarti.. Seo-mi ?

“Jangan negative thinking dulu, Jae-hoon ah !” ujarku.
“Tapi dia itu sangat dekat dengan Seo-mi !!”
“Hmm.. Kita selidiki saja pelan – pelan..”

Namun, Jae-hoon langsung mengeluarkan telepon genggamnya dan mengirimi Doo-joon SMS.

“Ya ! Apa yang kau lakukan ?!” tanyaku agak kesal.

Aku bilang selidiki pelan – pelan !

“Ahh.. Shit.. Tidak dibalas..” rutuk Jae-hoon.

+++

Apakah benar ? Apakah Doo-joon benar – benar berpacaran dengan Seo-mi ? AH.. Tidak mungkin. Tapi, kalau tidak mengapa mereka begitu dekat ? Cara mereka memandang satu sama lain juga.. Shit. It’s none of my bussiness. Mengapa aku mendadak peduli ? Jika mereka berpacaran aku juga tidak akan celaka. Iya tidak ?

~

Pagi itu, dengan tergesa – gesa aku berlari menuju gerbang sekolah yang hampir ditutup.

“Aigoo~ songsaengnim !!” keluhku.

Padahal hari itu akan diadakan pengarahan di lapangan sekolah..

“Kalian semua yang terlambat, berbaris disini !” tegur Lee songsaengnim.

Dengan wajah ditekuk, aku pun mengambil barisan dibelakang siswi yang terlambat sama sepertiku. Saat aku menoleh ke samping.. Ternyata Doo-joon juga terlambat. Raut wajahnya benar – benar menunjukkan bahwa ia sedang kesal. Siapa yang tidak kesal bila kena hukum ?

Setelah kuperhatikan lagi.. Doo-joon ini adalah laki – laki yang lumayan.. Ehem.. Tampan.. Bahkan nilai 7,5 yang kuberikan padanya saat pertama kali melihatnya naik menjadi 7,8.

“Ssst..” panggil Hyo-hoon dari belakang.
“Apa ?” sahutku.
“Itu.. Yang disukai Jae-hoon itu yang mana sih ?” tanya Hyo-hoon.
“Ini, yang berdiri di sampingku..” ujarku dengan sambil melirik Doo-joon.
“Yang mana ?” tanya Hyo-hoon.
“Ini, yang  memakai tas merah !”

Hyo-hoon membentuk huruf ‘o’ dengan mulutnya. Aku memperhatikan Doo-joon dari atas ke bawah. Bulu matanya panjang sekali. Lentik pula.. Oke, nilainya naik menjadi 8 dari 10.

Ia tersenyum. Okee.. Senyumnya itu.. Wah.. Memamerkan deretan giginya yang rapi dan cemerlang. Jadikan itu 9 dari 10.

“Setelah itu kalian harus membuat rangkuman pelajaran dari jam pertama !”

Oh, aku mengerti.. Lee Songsaengnim meminta kita untuk membuat rangkuman pelajaran pada jam pertama. Sepertinya Doo-joon tidak mengerti.. Wajah bingungnya benar – benar lucu. Itu membuat nilainya naik di mataku.

Sesaat kemudian ia tersenyum tanda mengerti setelah ia di beritahu temannya. Nilainya naik lagi. Caranya ia berkedip.. Berapa nilainya ? Entah…

Saat itu, aku mulai menyadari aku suka padanya. Tapi.. Tunggu dulu.. Jae-hoon kan juga menyukai Doo-joon.. Apa yang harus aku lakukan ?

~

“Kau tahu, aku menyukai bulu matanya si Doo-joon. Begitu panjang dan lentik..” ucapku tanpa sadar.
“Hahahhaha, apa kubilang dia keren kan ?” bangga Jae-hoon.

Aku tersenyum.

“Sayang, dia jual mahal banget..” gumam Jae-hoon.

Lagi – lagi aku hanya tersenyum.

Aku tidak tahu bagaimana cara yang tepat untuk memberitahunya..

Aku takut..

+++

Aku mendatangi Jae-hoon saat ia di kantin.

“Sepertinya aku juga menyukai adik kelas.. Aku kualat karena mengejekmu..” gurauku.
“Hahahahhaha, siapa ?” tanya Jae-hoon.

Mukaku memerah. Aku memalingkan wajahku.

“Ayolah, beritahu.. Siapa dia ?” tanya Jae-hoon.
“Nanti, akan kuberitahu..”

Aku pun berjalan meninggalkannya di kantin. Aku tidak bisa memberitahukannya. Bagaimana kalau ia marah padaku ? Bagaimana kalau ia akan membenciku ? Bagaimana kalau..

Terlalu banyak ‘bagaimana kalau’ yang aku pikirkan. Aku melihatnya, ia sedang bermain tenis meja dengan teman – temannya seperti biasa..

Senyumnya.. Kau selalu membuatku merasa seperti ini, Doo-joon. Sayangnya kau lebih muda dari pada aku. Tidak bisa kubayangkan nantinya kau akan memanggilku noona. Aneh.

“Hey ! Siapa orang ituu ?” tanya Jae-hoon.

Sontak, aku langsung berteriak kaget.

“Ssst.. Biasa aja kali.. Hayo ngelamunin siapa ?” goda Jae-hoon.

Aku menggelengkan kepalaku. Sesekali melirik ke arah Doo-joon yang mungkin heran karena teriakanku.

“Aku sudah tidak suka dengan Doo-joon” ujar Jae-hoon.

Mataku membulat. Apa dia bilang ?

“Mengapa ?” tanyaku.
“Ia sombong. Percuma banget kalau ganteng tapi sikapnya gak banget..” jawab Jae-hoon.

Aku melongo tidak percaya.

“Sungguh ?” tanyaku. Ia mengangguk.
“Aku bahkan sudah menemukan penggantinya !” jawab Jae-hoon.

Dengan begini, lepas bebanku satu. Hanya satu.

“Jadi, siapa dia ?” tanya Jae-hoon.
“Doo-joon..” bisikku.

Jae-hoon membuka mulutnya tidak percaya. Ia kehabisan kata – kata.

“APAAA ?!!”

Dan seluruh mata tertuju pada kami..

+++

Aku memberanikan diriku meng-add Doo-joon di salah satu social network di internet. Beberapa hari kemudian, ia menerima permintaan temanku. Aku pun menulis pesan di profilnya.

thanks 4 confirm 🙂

Aku menutup jendela internet dan menunggu balasan dari dia. Walaupun aku yakin itu akan sangat lama.

Beberapa hari kemudian, ia membalas pesanku itu.

yoo, ini siapa ?

Aku membalas pesan tersebut. Dan dugaanku benar, beberapa jam kemudian, ia membalasnya.

ya.

Aku sakit hati. Aku menanyainya panjang lebar dan ia hanya menjawa dengan tiga karakter ?! Dua huruf dan satu tanda baca. Jantungku berdegup kencang karena kesal. Aku langsung memutuskan sambunganku ke internet !

+++

Jae-hoon benar, ia memiliki wajah yang tampan namun, sikap yang buruk. Ia benar – benar sombong.

Seminggu setelah itu, aku mulai bisa melupakan insiden di social network tersebut. Hari ini, aku akan memotong rambutku yang sudah berantakan dan tidak bermodel lagi. Jujur saja, aku sangat puas dengan potongan rambutku yang kali ini.

Esoknya, semua temanku terkejut melihat rambutku yang biasa panjang dan tebal sekarang sudah menjadi tipis. Dan aku menyadari kalau Doo-joon melirik ke arahku. Sepertinya ia penasaran. Sesaat, aku merasa menang. Namun, perasaan menang tersebut hilang ketika aku melihat Seo-mi menghampirinya.

Percuma. Ia pasti menyukai Seo-mi. Bagaimana tidak ? Seo-mi adalah yeoja yang petite. Dan lebih pendek dari Doo-joon. Emang ada namja yang mau kalah tinggi dengan yeojachingu-nya ? Sepertinya tidak. Oh bukan, tentu saja tidak.

Hari demi hari lewat. Rasa sakit hati ini makin dalam saja. Mungkin ia memang bukan untukku. Maksudku, aku sudah kalah bahkan sebelum bertanding. Mungkin saja Seo-mi dan Doo-joon saling menyukai.

Mereka begitu akrab dan tidak canggung.

+++

Suatu hari, ketika aku berada di rumah Mi-young bersama Kyung-ri dan kebetulan saat itu Mi-young sedang memasak makan siang untuk kami bertiga, tiba – tiba Kyung-ri berkata..

“Aku tahu siapa itu YD..” ujarnya.

Aku memasang wajah cuek walaupun aku sudah panik setengah mati.

“Siapa itu ?” tanyaku dingin. Terima kasih Tuhan, karena telah memberiku poker face.
“Yoon Doo-joon kan ?” tebaknya.

Aku terbatuk. Bagaimana ia tahu ? Aish, mengapa aku pakai terbatuk segala ?!

“Iya kan ?” tanya Kyung-ri.
“Err..”

Ia tersenyum penuh kemenangan. Ya, silahkan Kyung-ri. Aku menatapnya dnegan tatapan mengancam.

“Tidak.. Tidak.. Tenang saja aku tidak akan memberitahu siapa – siapa. Aku ini orangnya gak kayak gitu kok..” ujarnya.

Percuma saja, ucapannya malah membuatku panik.

“Kamu tahu dari siapa ?” tanyaku cuek.
“Seseorang yang namanya tidak ingin disebut” jawabnya.

Curse that person !

+++

Hari ini aku sedang berjalan di lantai dua sekolah. Memang sudah waktunya pulang, tapi Sang-mi memaksaku agar menemaninya ke lantai dua.

Aku bisa melihatnya dari atas. He walks Hee-kyo and Hee-kyo’s boyfriend, Jung Tae-woo and don’t forget the his-soon-to-be-girlfriend, Seo-mi.

Aku bisa merasakan hatiku pecah perlahan – lahan hingga menjadi serpihan – serpihan kecil yang sulit untuk disatukan kembali. Aku melihat Doo-joon begitu bahagia dengan Seo-mi. Matanya berkilauan ketika memandang Seo-mi.

“Doo-joon itu keren sekali. Saking kerennya aku ingin melemparnya dengan sepatu !” gerutuku.
“Kok di lempar sepatu ?” tanya Sang-mi.
“Yahh, dia jahat !” tudingku.

Sang-mi mengangkat alisnya sebelah.

“Mungkin ia benar – benar bersama dengan Seo-mi. Dia benar – benar bodoh tidak menyadari perasaanku..” bisikku.

Sang-mi hanya menatapku heran.

“Tidak, jangan berpikiran negatif terus – terusan. Lagipula Seo-mi dan Doo-joon tidak benar – benar pacaran kok..” hibur Sang-mi.

+++

Hari ini adalah pelarajan Bahasa. Kebetulan, Kang songsaengnim tidak bisa masuk mengajar, karena itu pelajaran Bahasa menjadi pelajaran kosong. Dengan malas, aku duduk di tempatku seperti biasa. Saat menoleh ke belakang aku melihat suatu tulisan..

Bo-mI
♥
Doo-jooN

Bagaikan sebuah petir di siang hari, aku merasa sakit membacanya. Kemarin Seo-mi, sekarang Bo-mi ?!! Apa – apaan ini ? Dengan kesal, aku mengeluh ke Ha-in dan Hyun-ju.

“Apa – apaan ini ?! Huft !” keluhku.
“Ckckckck..” Ha-in berdecak kayak cicak lagi  kawin.
“Sudahlah, mungkin hanya orang iseng..” ujar Hyun-ju.

Sementara Seo-in yang kebetulan mendengar keluhanku, langsung duduk di sampingku.

“Siapa itu Bo-mi ?” tanyanya.

Aku memalingkan sebagai tanda ‘I don’t wanna talk about it’ namun ia terus – terusan mengajakku berbicara.

“Tidak mungkin ia bersama Bo-mi..” ujarnya.

Aku tidak menjawab, aku berpura – pura sibuk dengan bukuku.

“Ya !” panggil Seo-in yang kesal karena kuabaikan.

Aku menoleh.

“Doo-joon itu berpacaran dengan Young-gi” ujar Seo-in.

Tidak, tidak.. Pura – pura tidak tertarik.. Ayolah…

“Tahu dari mana ?” tanyaku.

Oh shit.

“Soalnya belakangan ini mereka sering mojok.. Dimana ada Young-gi, pasti ada Doo-joon..”

Tidakk, jangan terlihat sedih.. JANGAN..

“Oh..”

Mengapa aku terdengar begitu sedih ?!! Screw you !!

“Tapi, tenang saja.. Aku tetap mendukungmu dengannya..”
“Tidak usah, aku tidak peduli lagi..”

Sekali lagi, terima kasih Tuhan karena aku telah dianugerahi poker face.

“AKU AKAN MENDUKUNGMU !” teriaknya sambil mengangkat tangannya.
“YAH !!” teriakku seraya memukul lengannya.

+++

Hari Sabtu, setelah pelajaran olah raga.. Aku melihatnya.. Ia bersama.. Young-gi ?! Mungkin Seo-in benar.. Ia berpacaran dengan Young-gi.. Lihat saja tingkahnya… Young-gi sedang bersama teman – temannya dan dia namja sendirian..

Ya, pasti Seo-in benar.. Aku benar – benar membenci keadaan ini.. Aku benci ketika aku menjadi lemah seperti ini.

Senyumnya.. Mengapa ia tidak sadar bahwa aku menyukainya ?! Jika aku seorang psikopat, mungkin aku sudah maemutilasinya karena ia tidak membalas perasaanku.

Ah, aku merasa hatiku pecah menjadi kepingan – kepingan kecil yang tidak mungkin disatukan kembali. Mengapa ini selalu terjadi ? Aku adalah orang yang sulit jatuh cinta.. Tapi mengapa ketika aku jatuh cinta, aku tidak pernah mendapatkan cinta itu ?!

Breaking,
End

Afterglow After Words

Hell-o ! yeah, ini kejadian nyata dan merupakan curhatku. Siapa itu Bo-mi ? Hee-kyo ? Jung Tae-woo ? Seo-mi ? kalo Hee-kyo, Jung Tae-woo dan Seo-mi itu temennya si ‘dia’ di sekolah XD Young-gi ? Itu yahh .. entah siapanya ‘dia’ yang pasti mereka deket banget dan semua adegan yang di FF ini nyata 😥

Bo-mi ? Itu nama ceweknya Changmin di Banjun Drama ! *plakk* yah, yang pasti soal tulisan di meja itu beneran, dan gg mungkin aku tulis nama aslinya XD

Kalo Kyung-ri, Hyun-ju, Seo-in, Sang-mi, Ha-in dan Jae-hoon .. Mereka teman – temanku yang baik hatiii~~ *kissu*

Dan bagi kalian yang sering nongkrong di sjFF, Sang-mi yang disini itu BUKAN Seo Sangmi Kelly Kelteuk onnie yang di sjFF .. teruusss ada yang sering nongkrong di Milkysu-Indo, pasti tahu Shin Ha-in.. Tenang Ha-in yang disini bukan Ha-in Milkysu-Indo 😀

kesamaan nama memang tidak bisa dihindari = =”

Oh! My Taemin

3 Okt

Oh! My Taemin

Sebelumnya author mau memperingatkan dulu~ FF ini adalah FF yaoi antara Taemin-Minho yang idenya muncul waktu author lagi salat taraweh hehehe. Rate nya super rendah kok, soalnya author aja baru baca satu FF 2Min hehe~ Yang nggak suka boleh tidak dibaca. Dan tolong  NO BASHING TO ME hehe. Terus buat Kyorin onnie, aku pinjem nama yaa! Gomapta *deep bow* Terus terus author mau jadi cameo yaa disini, tapi sebagai yeojachingu nya Jonghyun, dengan nama baru saya *mwahaha* Han Ji Hye! Hehe~ Enjoy reading! \(^o^)/

**

Choi Minho membuka pintu mobilnya dengan kalem. Begitu ia menginjakkan kakinya di halaman parkir sekolahnya, Kyunghee High School, berjuta Flames—sebutan untuk fans Minho—yang notabene yeoja langsung menjerit histeris.

Minho mengernyitkan dahinya. “Apa aku kelihatan seperti setan pagi ini, Hyun Shik?” tanyanya pada sopirnya. Park Hyun Shik menggeleng. “Anda terlihat tampan seperti biasa, Tuan Muda,” jawab Hyun Shik. “Lalu kenapa yeoja-yeoja itu berteriak saat melihatku?” tanya Minho polos. “Itu karena Tuan Muda memang tampan,” jawab Hyun Shik sopan.

“Ah ya sudahlah,” Minho mengibaskan tangannya dengan santai. Ia melepas kacamata hitamnya, mengambil ransel di dalam mobil dan langsung berjalan menuju kelasnya.

Dan sepanjang perjalanan menuju kelasnya, para Flames sibuk memotret Minho atau sekadar menyapa, berharap si Flaming Charisma itu membalas sapaan mereka. Namun seperti biasa, Minho hanya tersenyum tanpa banyak berkomentar.

++

“Aaah~! Mino tampan sekali ya pagi ini!” Kyorin berkomentar sambil memandangi Minho yang baru lewat di hadapannya. Taemin mendongak dari buku Kimia yang dibacanya. “Oh, si mata besar, toh. Kupikir siapa,” komentarnya acuh.

Kyorin menggebuk Taemin dengan buku tulis yang dibawanya. “Enak saja mata besar! Tuan muda Choi yang tampan begitu kau bilang bermata besar? Lee Taemin, kau harus segera ke dokter mata!” ujar Kyorin jengkel.

“Bukannya seharusnya kau yang ke dokter mata, Kyorin? Habisnya aku tidak pernah menangkap sisi keren dan tampan dan apalah itu namanya dari si mata besar itu,” kata Taemin sambil mengusap-usap bahunya yang tadi habis digebuk Kyorin dengan sadis.

Kyorin memutar bola matanya. “Kau harus jadi yeoja kalau kau ingin menangkap pesona seorang Choi Minho,” katanya tegas.

“Apa aku perlu operasi kelamin?” balas Taemin cuek. Kyorin mendengus mendengarnya.

++

Choi Minho, seorang tuan muda kaya pewaris utama Choi Group, berumur 17 tahun dengan wajah diatas rata-rata. Matanya yang besar dan senyumnya yang mematikan sanggup membuat jumlah Flames meningkat drastis dalam sekejap. Ia dikenal dengan nama Flaming Charisma di Kyunghee High School.

Selain kaya dan tampan, kemampuannya di bidang akademik juga tidak di ragukan. Apalagi ia juga jago menyanyi. Lengkaplah sudah semua kelebihan dari seorang manusia bernama Choi Minho ini.

Fans Minho—mereka menamakan diri mereka Flames—berasal dari banyak kalangan. Dari yang lebih muda daripada Minho sampai yang seharusnya dipanggil Ahjumma olehnya. Nggak deng, bercanda. Cuma sampai yang seharusnya dipanggil noona olehnya.

Dan Lee Taemin. Namja cantik yang sering dipanggil Miinah oleh sahabatnya sejak kecil, Lee Kyorin. Taemin hanya seorang namja biasa namun punya kemampuan lebih di bidang dance. Sejak kecil ia sudah jatuh cinta pada Kyorin, tapi dia tidak pernah punya keberanian menyatakannya, karena ia tahu Kyorin suka pada Minho.

Karena alasan itu lah Taemin agak-agak sensi gimana gitu sama Minho. Namanya juga cowok.

++

Bel pulang sekolah sudah berbunyi sejak tadi, tapi Minho masih berkeliaran di gedung sekolah. Ia memang sengaja pulang agak larut. Ia ingin melatih suaranya lagi, biar nggak kalah sama anak kelas sebelah itu loh, si Kim Jonghyun.

Minho berjalan melewati laboratorium Fisika, aula, dan ruang tari. Mendadak langkahnya terhenti saat mendengar musik beat yang terputar dengan keras dari ruang tari. Ia mengernyit. “Memangnya ada ekskul dance ya hari ini?” gumamnya.

Penasaran, Minho mengintip ke dalam ruang musik. Yang dilihatnya bukan sekumpulan yeoja yang ikut ekskul dance, tapi seorang namja yang rambutnya agak panjang tengah asyik nge-dance dengan lihainya.

Minho ternganga, kagum. Baru kali ini ia melihat namja nge-dance! Dan ternyata keren juga~! Tapi… Siapa namja itu?

Namja itu yang tak lain tak bukan adalah Lee Taemin masih asyik dancing tanpa sadar ada dua pasang mata super gede *diinjek Flames* yang tengah mengamatinya.

Minho masih terus mengamati Taemin. Entah kenapa perasaannya berkata lain. Ia bukan hanya sekedar mengagumi namja di hadapannya itu, tapi… Entahlah, perasaannya abstrak.

Klik. Taemin memencet tombol stop pada tape-nya. Ia menoleh, mengernyit tak suka saat melihat Minho tengah berdiri mematung mengamatinya.

“Apa yang kau lakukan?!” tanya Taemin, marah. Ia tidak suka jika ada orang yang mengamatinya sedang nge-dance secara diam-diam.

“Aku… aku… Aku kebetulan lewat dan mendengar musik beat dari sini… Jadi aku… Aku datang kemari dan menemukanmu sedang—“

“Kau menguntitku?” potong Taemin. Ia melepas blazer siswa Kyunghee High School dan menyampirkannya di bahunya. Melihatnya jantung Minho mendadak bereaksi.

“Andwae. Sudah kubilang aku hanya penasaran saat mendengar ada musik beat diputar dari ruang ini,” jawab Minho.

Taemin menatap Minho dingin. “Terserah kau lah. Yang jelas aku tidak suka diamati diam-diam. Kau mau pakai ruangan ini? Silahkan,” katanya. Ia mengambil ranselnya yang ditaruh di lantai, lalu berlalu tanpa melihat Minho sedetik pun.

“Eh, hei! Tunggu!” kejar Minho. Tapi Taemin tidak mau menoleh untuk namja yang merebut hati Kyorin.

Sepeninggal Taemin, Minho berdiri dengan kening berlipat. Ia jelas namja yang normal, tapi entah kenapa melihat namja yang cantik tadi ia merasa ada yang aneh dengan dirinya. Minho menggelengkan kepalanya, berusaha mengenyahkan bayangan wajah  namja tadi yang sejak tadi menghantuinya.

“Aigoo, Choi Minho, kau adalah namja yang normal! Sadarlah!” gumamnya.

++

“Yaa! Eh.. Mm, Lee Kyorin-ah!” Minho mengejar langkah gadis itu. Kyorin menoleh, kaget mendapati sang Tuan Muda Choi yang memanggilnya. “Ne, Minho-sshi?” balas Kyorin sambil tersenyum manis. “Panggil saja aku Minho. Ada yang ingin kubicarakan denganmu. Bagaimana kalau kita duduk di sana?” Minho menunjuk bangku di bawah pohon besar dekat aula Kyunghee High School.

“Ah, ne, boleh saja,” Kyorin mengangguk senang.

“Aku ingin bertanya.. Siapa namja yang sering bersamamu itu?” tanya Minho, mendadak duduknya gelisah. Kyorin mengernyitkan dahi. “Namja yang mana?” tanyanya heran. “Itu.. Namja yang rambutnya kecokelatan itu..” jawab Minho gugup.

“Ah! Miinah?” kata Kyorin. Ganti Minho yang mengernyitkan dahinya. “Miinah? Itukah namanya?” tanyanya heran. Kyorin tertawa. “Andwae! Aku memanggilnya begitu sejak kecil karena ia memang miinah..” jelas Kyorin. Dalam hati Minho mengiyakan perkataan Kyorin.

“Nama aslinya Taemin, Lee Taemin. Memangnya kenapa, Minho-sshi?” Suara Kyorin membuyarkan lamunan Minho.

“Minho,” ralat Minho. “aku hanya ingin tahu saja. Mianhae membuatmu repot,” sambungnya. Kyorin menggeleng polos. “Andwae. Kau sama sekali tidak merepotkanku. Aku malah senang bisa membantumu,” Kyorin tersenyum sekali lagi. Minho balas tersenyum.

Gadis ini manis juga, batin Minho.

“Yaa! Kyorin-a! Sedang apa kau disana? Cepat kemari!” Mendadak seseorang berteriak memanggil Kyorin. Minho dan Kyorin kompak menoleh ke sumber suara. Ternyata Taemin. Ia berdiri berkacak pinggang, memancungkan bibirnya tidak suka saat melihat Kyorin sedang berduaan dengan Minho.

“Cerewet kau! Tunggu sebentar, aku akan kesana, Miinah!” balas Kyorin. Minho menatap Taemin yang menatapnya dingin. “Taemin-sshi, aku minta maaf soal kemarin..” kata Minho cepat. Taemin mendengus. “Ternyata Tuan Muda Choi tahu namaku..” katanya.

Kyorin mengernyit. Ada apa sih antara Minho dan Taemin?

“Ada apa diantara kalian?” tanya Kyorin.

“Kemarin ak—“

“Tidak ada apa-apa. Lee Kyorin, cepat kemari!” potong Taemin sebelum Minho sempat menjelaskan. “Huh, iyaaa! Minho-sshi eh maksudku Minho-yaa, aku duluan ya. Si Miinah bisa mengamuk kalau aku tidak segera kesana. Annyeong!” Kyorin berdiri lalu berlari ke arah Taemin.

Minho menekan pelipisnya. Lagi-lagi muncul perasaan aneh dalam hatinya. Choi Minho, sadarlaaaaah!

++

“Ada apa sih antara kau dan Mino?” tanya Kyorin. Taemin cemberut ditanya begitu. “Tidak usah dibahas,” katanya. Kyorin mengernyit. Ia mencubit pipi Taemin yang cemberut dengan gemas. “Yaa~! Taemin-a! Kau anggap apa aku, Lee Kyorin yang sudah tujuh belas tahun jadi sahabatmu ini?” protesnya.

“Kyorin-a! Aku tidak mau membahasnya. Aku kesal sekali dengan Tuan Muda Choi-mu itu..” kata Taemin.

Kyorin diam. Lebih baik menyerah sebelum Taemin meledak saking marahnya.

Melihat Kyorin diam, Taemin jadi merasa bersalah. “Kyorin-a, mianhae..” ujarnya sambil ber-aegyo. Kyorin tertawa melihatnya. “Yaa, Miinah~! Kau selalu tau aku tidak tahan dengan aegyo-mu itu..” Taemin balas tertawa. “Dan aku selalu tau kau akan berkata—“

“Lee Taemin kyeopta~! saat kau ber-aegyo,” sambung Kyorin. Taemin tersenyum lebar. “Gotcha! Gadis pintar!” pujinya sambil mengusap-usap kepala Kyorin dengan riangnya.

“Taemin pabo-ya! Aku kan memang pintar sejak dulu,” kata Kyorin dengan pedenya. Taemin hanya bisa tertawa.

Dari jauh, Minho mengamati mereka dengan—lagi-lagi—perasaan aneh merayapi dirinya.

“Masa aku jadi yaoi sih? Habisnya.. Taemin kelihatan cantik sekali dimataku..” gumam Minho.

++

Semakin lama perasaan kagum Minho pada Taemin saat melihatnya ngedance dulu berubah jadi perasaan yang—ehem, meskipun terpaksa Minho mengakuinya—lebih.

Namja itu entah kenapa terlihat sangat menawan di mata Minho. Setiap melihatnya tidur siang di atas pohon saat jam istirahat, setiap melihatnya main basket bersama siswa-siswa lain, setiap melihatnya makan siang berdua bersama Kyorin, dan setiap melihatnya ngedance di ruang tari, jantungnya selalu berkata lebih.

Meskipun merasa aneh, Minho mengakuinya. Ia mengakui bahwa ia telah jatuh hati, oleh seorang namja bernama Lee Taemin.

++

“Sepertinya kau mulai di taksir oleh Tuan Muda Choi-mu itu,” kata Taemin sambil menyurengkan alisnya. Kyorin mendongak dari ramen yang tengah dimakannya. “Hah?” tanyanya bingung.

“Kau ini babo atau bagaimana sih? Sudah sejak lama Choi Minho mu itu membuntuti kita.. Kupikir dia mulai menyukaimu,” kata Taemin. Bibirnya sudah maju tiga senti sekarang *ditabok Taem*

Kyorin mengernyit, lalu tertawa. “Tidak! Dia hanya membuntutiku saat ada kau di dekatku. Selebihnya, kulihat dialah yang membuntutimu..” katanya santai.

“Mwoya?! Teori apa lagi itu? Iggh..” refleks Taemin berteriak jijik. Kyorin mengedikkan bahu. “Memang itu kok kenyataannya. Lagipula aku tidak menyukai Mino, aku hanya mengaguminya,” ujar Kyorin.

“Yang benar?” Wajah Taemin berubah cerah saat mendengar perkataan Kyorin. “Ne.. Sudah lama aku menyukai namja yang lain. Sayangnya namja itu babo sekali sampai ia tidak menyadarinya,” Entah kenapa saat mengatakannya wajah manis Kyorin berubah semerah tomat.

“Siapa namja itu?” kejar Taemin penasaran. Kyorin tertawa. “Sekalipun kau sahabatku, untuk hal seperti ini aku tidak akan pernah mengatakannya padamu,” katanya tegas. Taemin merengut, tapi tidak berkomentar banyak.

Saat hendak menyuap ramen ke dalam mulutnya, ia melihat Minho tengah duduk di bawah pohon sambil mengarahkan ponsel berkamera ke arahnya. Taemin mengernyit.

“Ayo pergi! Ada psycho yang mengincarmu—atau aku!” Taemin bangkit, menarik lengan Kyorin untuk segera berdiri.

“Ada apa sih?” tanya Kyorin bingung. “Arah jam dua, di bawah pohon. Sedari tadi dia memotret kita!” bisik Taemin. Kyorin melirik ke arah jam duanya. Ia kaget mendapati Minho sedang memotretnya dan Taemin.

“Sedang apa ia?” desis Kyorin bingung. Taemin mendesah. “Kalau aku tahu tentu saja aku tidak akan bertanya padamu, babo! Sudahlah, lebih baik kita pergi saja sekarang. Aku tidak suka difoto diam-diam seperti itu. Lagipula sudah kubilang sepertinya dia psycho—atau penganut aliran sesat atau apalah itu namanya,” katanya.

Kyorin akhirnya bangkit dan mengekor kemana Taemin pergi.

++

Minho berdecak. Sedikit lagi dia dapat foto close up Lee Taemin! Tapi karena Taemin menyadari bahwa ia sedang dipotret ia buru-buru menarik Kyorin sekalian pergi dari tempat itu.

Minho mengacak rambutnya kesal. Seandainya saja aku menyukai yeoja! Arggghhh.. Cinta inii membunuhkuu~” *author dibejek Minho+Flames*

Si Flaming Charisma menatap ponselnya yang menampakkan foto Taemin tengah makan ramen dengan lahapnya.

“Kalau kau tidak bisa didekati diam-diam, aku akan mendekatimu secara terang-terangan..” gumam Minho.

++

Taemin melangkah cepat menuju ruang tari. Ia sudah janji dengan temannya, Jonghyun, untuk latian dance berdua. Ia terlambat sepuluh menit dari waktu perjanjian karena tadi harus membantu Kyorin mengerjakan soal matematika.

“Annyeong, Jonghyunnie! Mianhae aku terlam—“

Kata-kata Taemin terhenti saat melihat Jonghyun berdiri sambil nyengir. Bukan, bukan Jonghyun yang membuatnya mendadak berhenti seperti itu, tapi sosok di sebelah Jonghyun.

BUKAAAN! Bukan Ji Hye yeojachingu-nya Jonghyun, tapi Minho! Choi Minho!

“Annyeong, Taemin-ah!” Jonghyun menyapa Taemin dengan ramah. Ji Hye melempar senyum kepada Taemin. Minho? Ia terlihat malu-malu kucing saat Taemin menatapnya dingin.

“Kenapa dia ada disini?” tanya Taemin. “Dia? Dia menungguku. Kalau dia pulang sekarang, siapa yang akan mengantarnya?” jawab Jonghyun sambil tersenyum pada Ji Hye. Taemin mendengus. “Bukan Jihye! Tapi dia!” Ia menuding Minho yang langsung gelagapan saking kagetnya.

“OOOH! Minho ternyata.. Dia bilang padaku bahwa ia ingin bisa dance, ya sudah aku tawarkan saja padanya untuk belajar bersama kita hari ini. Kau keberatan?” tanya Jonghyun. Minho mengacungkan jarinya membentuk huruf V pada Taemin.

“Yaa~! Minho-sshi! Di tempat ini tidak ada Kyorin!” kata Taemin jutek. “Mwo? Kyorin? Memangnya ada apa dengannya?” tanya Minho heran. “Kau mengincarnya kan? Aku tahu kau selalu membuntutinya diam-diam, dan lagi tadi siang kau juga memotretnya diam-diam kan?” jawab Taemin.

Jonghyun dan Jihye yang merasa diacuhkan cuma bisa melongo mendengar penuturan Taemin yang bernada jutek buanget pada Minho. Mereka berdua bisa maklum, soalnya kan mereka juga tau kalo Taemin sudah lama naksir Kyorin dan benci banget sama Minho yang dia rasa merebut hari Kyorin *ceilah.

Minho melongo. Aigoo~ Dia salah paham! Aku mengincarNYA, bukan Kyorin! -_-

“Aku tidak mengincar—“

“Terserahlah. Ayo Jonghyun, kita mulai latihannya. Aku tidak mau waktuku terbuang untuk melayani secret admirer-nya Kyorin,” potong Taemin. Jonghyun menjentikkan jarinya, memberi aba-aba pada Jihye untuk menyalakan tape.

Musik beat diputar, Taemin dan Jonghyun kompak menari bersama. Minho? Dia cuma bisa melongo melihat Taemin sedang dance dari jarak sedekat ini.

“Yaa! Minho-yaa! Apa kah mereka sebegitu kerennya hingga kau terpesona sampai sebegitu?” Jihye menepuk pundak Minho yang berdiri mematung dengan mulut terbuka dan berbusa. Eh enggak deng, yang berbusa itu bercanda.

Minho menoleh, mendapati Jihye yang tersenyum padanya. “Aku kan memang tidak bisa dance, Jihye-ah,” katanya seolah mengingatkan Jihye pada fakta. Jihye tertawa. “Aku juga tidak bisa, kok. Jonghyunnie selalu berusaha mengajarkanku, tapi aku tidak pernah mau.” katanya.

Minho mengangguk-angguk sopan. “Anyway.. Kau benar mengincar Kyorin?” tanya Jihye. Minho menggeleng cepat. “Andwae! Aku benar-benar tidak mengincar Kyorin..” jawab Minho. “Tapi, apa benar yang dikatakan Taemin kalau kau membuntuti Kyorin dan memotretnya?” kejar Jihye.

“Eh.. Ngg.. Itu.. Aku hanya membuntutinya saat sedang bersama..” Batin Minho berperang. Ia tidak mungkin menceritakan rahasia terbesarnya pada gadis yang baru dikenalnya seperti Jihye ini. Tapi melihat mata Jihye yang bening seolah memaksanya untuk membeberkan semuanya.

“Bersama?” ulang Jihye.

“Bersama.. Tt.. Tae—“

“Minho-yaa! Kalau kau sampai membuat Jihye berpaling dariku, aku tidak akan segan-segan mengulitimu! Hahaha!” Mendadak Jonghyun berseru. Ia mematikan tape dan mengambil handuk dari Jihye.

“Jagiya, kau harus selalu ingat bahwa aku si Bling Bling jauh lebih keren daripada si Flaming Charisma ini~” kata Jonghyun pada Jihye. Jihye hanya tersenyum mendengarnya.

Minho mendesah lega. Untung saja tadi Jonghyun memotong perkataannya.

“Minho-ya! Kau namja kan?” tanya Jihye mendadak. Minho mengangguk cepat. “Dan aku yakin kau namja yang normal,” kata Jihye sambil tersenyum sangar (?)

Minho terkejut. Gadis itu cepat sekali merangkai fakta.. Aigoo! Aku ketahuaaan! >< Seorang Flaming Charisma rahasianya ketahuan oleh seorang gadis yang baru saja di temuinyaaa!

“Tenang saja aku tidak akan membocorkannya. Taemin-a! Ini handukmu!” kata Jihye.

Minho mengacak rambutnya. Semua ini membuat kepalanya pening.

++

Malam hari, di kamar Taemin..

Taemin menatap ponselnya dengan panas-dingin. Ia harus melakukannya! Sekarang! “Ya Tuhaan~! Berilah aku keberaniaaan!” rengek Taemin.

Ia menarik nafas dan menekan tombol hijau di ponselnya.

“Yoboseyo?” suara Kyorin. “AAAH! Eh, eh mian, yoboseyo..” kata Taemin refleks. “Yaa! Taeminnie! Kau kenapa sih? Kamar kita kan berseberangan! Kenapa kau sok-sokan menelepon begini?” kata Kyorin.

Taemin menarik nafas lalu menghembuskannya. “Ada yang ingin kubicarakan denganmu, Lee Kyorin..” katanya. Kyorin berhenti mengoceh.

“Ada apa?” tanyanya.

“Aku.. aku.. Err.. Sebenarnya.. Eh emm.. Jadi gini lho.. Aku itu.. Eh..”

Di seberang kamar Taemin, Kyorin memutar bola matanya. Tumben sekali ia mendengar Taemin mendadak gagap kayak Azis Gagap begini *diinjek Taem*

“Bicaralah dengan jelas!” kata Kyorin tegas.

“Aku menyukaimu! Jadilah yeojachingu-ku!” Dibentak begitu oleh Kyorin, Taemin langsung tembak capcus.

Kyorin membelalakkan matanya. Taemin membekap mulutnya. “Ah.. Aku.. Mianha—“

“Nado,” potong Kyorin. Taemin mengernyit. Ia salah dengar ya? “Mwo? Bisa kau ulangi, Lee Kyorin-a?” tanyanya. “Yaa! Lee Taemin! Aku maluuuu~” kata Kyorin.

“Hah?” Taemin mendadak bego.

“Uuughh! Jagiya kau babo sekali!” Mendengar Kyorin memanggilnya jagiya, rasanya Taemin terbang ke langit ke tujuh bersama bidadari syalala syilili *ditabok.

++

Keesokan harinya..

Minho mematut dirinya di depan cermin, entah untuk yang keberapa kalinya. “Yaa, Choi Minho! Kau bisa!” katanya pada dirinya sendiri.

Ia keluar dari toilet pria di Kyunghee High School dan segera berjalan menuju ruang tari. Lee Taemin ada disana, sedang latian dance. Sendirian.

++

“AAAAHHH!” Taemin berteriak kaget saat Minho tiba-tiba masuk ke dalam ruang tari. Minho nyengir, pipinya bersemu.

“Apa yang kau lakukan disini, hah?! Jonghyun yang akan mengajarimu dance, bukan aku!” kata Taemin, masih paranoid dengan kelakuan Minho yang dulu-dulu.

“Andwae.. Aku memang ingin bertemu denganmu. Ada yang ingin kukatakan padamu..” Minho mengacak-acak rambutnya, gugup.

“Apa?” tanya Taemin. Ia mundur selangkah saat Minho maju selangkah padanya. Melihatnya Minho akhirnya memutuskan untuk tetap ditempatnya.

“Aku sebenarnya sudah sejak lama—emm, aku ini dulu namja yang—eh maksudku aku ini namja dan aku suka pada—ehem, yeoja. Tapi entah kenapa sss—sejak melihat..”

Taemin mengernyit. Ia mencium aroma tidak sedap dari gelagat Minho.

“Ah, kelamaan! Lee Taemin, saranghaeyo! Jadilah milikku!” Minho berseru lantang, pipinya bersemu merah.

BRUKK! Suara barang jatuh di belakang Minho. Kyorin! Kotak bekal yang dibawanya untuk Taemin jatuh saking kagetnya mendengar seorang Flaming Charisma berkata begitu pada sesama namja.

Kyorin berdiri mematung, mulutnya menganga. Minho tersenyum aneh padanya lalu berbalik menghadap Taemin.

Sayangnya Taemin juga hanya berdiri mematung dengan mulut menganga, persis seperti Kyorin.

FIN

FYI, author emang sengaja bikin endingnya ngegantung gini! wekeke~ Soalnya author agak agak geli gimana gitu nulisnya -_- Mianhae ya kalo hasilnya nggak memuaskan! Buat Kyorin onnie juga mianhaeee *bow*

Our Dorm

26 Sep

Our Dorm

Genre : Horror, Friendship
Rating : PG/NC
Warning : Slight bloody scene, ghosts included
A/N  : Terus, ini fanfic ini berdasarkan kisah nyata. Well, gak semua adegan dari kisah nyata sih.. tapi intinya kira – kira begitu 🙂 Oh ya, member baru, Hwa Young belum bergabung dengan T-Ara di dalam FF ini

Baca lebih lanjut

Red is Here !!

20 Sep

sorry, belakangan ini gg update >.< *joget sorry – sorry* Baca lebih lanjut

Seoul, I’m in Love part 7

15 Sep

Seoul, I’m in Love part 7 – Han Rae Soo Story 🙂

23 Juli 2010, Jeju Island

Dear diary,

Yup, sekarang aku ada di pulau Jeju. Bersama siapa lagi kalau bukan dengan 2 shbtku itu? Dan tentu saja ditemani oppadeul Super Junior… Ini hr pertama kami di Jeju, tp aku merasa sudah berada disini lama sekali.

Hangeng oppa baik sekali padaku. Heechul oppa juga. Td Wanda juga tanya, kalau disuruh memilih antara Hangeng oppa dan Heechul, mana yang akan kupilih?

Ngomong-ngomong, aku tidak tahu jawabannya.

“YAK! Kau ini! Lagi ngapain sih?” Wanda mendadak muncul dan berusaha mengintip apa yang baru saja kutulis di diary. “Diary? Sejak kapan lo jadi menye-menye gitu? Hahaha,” komentar Wanda. “Enak aje menye-menye! Ga usa sok deh, Nda, gue juga tau kok, lo juga nulis diary kan?” balasku sebal. Wanda nyengir dengan wajah tanpa dosa.

Sialan, untung saja dia tidak membaca tulisanku ini.

“Kata Leeteuk oppa besok malam ada pesta BBQ,” kata Dea. “Barbeque? Terus? Apa hubungannya sama kita?” tanyaku, bego. “Kau mau ikut ato gak? Kalo gak mau juga gapapa, lo jaga cottage aja!” kata Dea sadis. “Yee… Kan gue cuma nanya euhh,”

Drrt. Ponselku bergetar.

From: Kim Heesica

Rae Soo, keluarlah sebentar ke pantai. Ada yg mau aku bicarakan denganmu. Jebal!

Aku mengernyit. Apaan nih? Dasar Heechul oppa, seenaknya saja menyuruhku keluar. Ini kan sudah malam, mana dingin juga. Enaknya kesana apa gak ya? Kalo kesana, aku takut kalo naluri psycho nya mendadak muncul terus aku diumpanin ke hiu di Jeju. Eh? Di Jeju nggak ada hiu? Ya sudahlah. Diumpannkan ke ikan teri mungkin.

Akhirnya aku memutuskan untuk keluar saja. “Nda, Dee, gue keluar dolo. Di cari Chullie oppa di pantai. Bye,”

Aku bergegas menuju pantai usai menyambar jaketku. Dengan agak tergesa aku berlari ke pinggir pantai. Ada-ada saja Heechul oppa itu. Ngapain sih dia suru aku kesini? Huh.

“Yak! Rae Soo-yaa! Kau terlambat dua menit lima koma tiga detik,” kata suara yang sangat kuhapal. Aku menoleh dengan dahi berkerut. “Ada apa sih? Cepat katakan! Aku capek oppa, disini dingin sekali,” protesku pada Heechul oppa yang nangkring di atas karang.

“Kau suka bintang Polaris kan?”

Aku mengernyit. Polaris Polaris. Bikin ingat Sirius aja. Huh. Kalo Arcturus sih masih mending. *diinjek purple*

“Yah, bisa dibilang begitu. Memangnya kenapa, oppa?” tanyaku, bingung. “Naiklah kemari,” Heechul oppa mengulurkan tangannya. Tanpa babibubebo aiueo cacicuceco aku menyambutnya dan segera naik ke karang yang tadi di tangkringi Heechul oppa.

“Aku nggak pinter ilmu perbintangan, dan aku gak tau Polaris itu yang mana. Tapi, kalo aku tunjukin bintang yang paling terang itu—“

Aku mendongakkan kepalaku, mengacuhkan perkataan Heechul oppa. YA AMPUN! Bintangnya terang sekali! Ini kan… Sirius !  Omonaaaaa~ Heechullie oppa kau mengingatkanku padanyaaaa… Tapi… Jadi hanya ini alasan Heechul oppa memanggilku keluar? Ya ampun…

“Sirius…” gumamku tanpa sadar. Heechul oppa disampingku menyeringai. “Itu bintang juga kan? Keren kan? Siapa dolo dong, Heechul ganteng sekali sejagad raya dung plak dung dung gituloh!” kata Heechul oppa, pede.

“Hahaha… Terserah kau sajalah, oppa. Tapi, gomawo ya! Ini bintang yang paling keren yang pernah aku lihat,” kataku sambil tersenyum setengah hati. Aku senang kok bisa lihat bintang sama Heechul oppa. Tapi kenapa harus SIRIUS? Kok bukan ARCTURUS?? *yegak purple? Hihi*

Aku mendongak, menatap langit malam bertabur bintang yang sangat kusuka. Menyenangkan sekali berada di sini. Oh iya, ternyata diluar nggak dingin-dingin amat loh -___- Aku saja yang paranoid…

Lho? Kok pundak kananku jadi berat? Apaan nih?

Aku menoleh dan mendapati Heechul oppa tertidur di bahuku dengan wajahnya yang superduper ganteng. “Astaga…”

Ya ampun, pasti wajahku merah banget nih. AAAAA. Deket banget nihhh? Aku bisa dengar desah nafasnya… Bahkan sampai dengkur halusnya! >__<

OMO!! Ini benar-benar bisa membunuhku D:

Aku menatap Heechul oppa disampingku. Kalau sedang tidur, sifatnya yang childish dan suka bermain itu menguap entah kemana. Hihi, lucunya. Rambutnya halus bangeeeet, nggak kayak rambutku yang suka kusut kalo bangun pagi-pagi… Huhu… Dasar, namja cantik! Aku saja yang yeoja tulen kalah darinya…

Kadangkala aku iri dengan namja cantik di sebelahku ini. -__-

Aku tersenyum dan menepuk-nepuk kepala Heechul oppa yang sudah mendengkur pelan di sampingku. Persis Heebum. Dasar, majikan dan peliharaan susah dibedakan -_-

“Tidurlah oppa…” bisikku.

+++

24 Juli 2010, Jeju Island.

Aku membuka mataku pelan. Loh, dimana nih? Langit nya bukan langit cottage ku sama Dea sama Wanda! Langit cottage ku warnanya putih pucat, bukan pink pucat begini!

Aku langsung duduk dari tidurku. Mengecek badanku. Huwa, untung masih pake baju lengkap. Bisa berabe kan kalo—

Hus. Umaaa. Jangan mikir negatif doooong -.-

“Nnggghhh…” Mendadak aku mendengar suara erangan dari sampingku. Aku menoleh dan…

TADAAA! Heechul oppa dengan santainya tidur berguling disampingku dengan wajahnya yang kyeopta dan polos. Dia hanya mengenakan kaus dan celana pendek.

Astaga, jadi semalaman dia tidur disampingku?

“MUGYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!” teriakkku kencang.

+++

“Aduuuh~ Teriakanmu tadi masih mendenging di telingaku, Rae Soo,” ujar Leeteuk oppa sambil mengorek korek telinganya .

“Habisnya Heechul oppa sih! Beraninya dia membawaku tidur di kamarnya!” ujarku sebal. Nyaris menangis, untung Hangeng oppa langsung duduk di sampingku sambil menepuk-nepuk pundakku memberi semangat.

“Aduuuh~ Aku tidak ngapa-ngapain kau, kok! SUMPAH! Kau tidak usah kaget begitu lah! Aku kan cuma mengigau terus salah masuk kamar, gitu aja sampe tereak,” jawab Heechul oppa sambil mengucek-ucek matanya.

“Lagipula itu juga kamarku dan kamar Han! Dia menyuruhku tidur di luar bersamanya agar kau bisa menempati tempat itu! Lalu tengah malam aku haus, begitu selesai minum aku lupa kalau ak u tidur di sofa, jadinya aku kembali ke kamar itu!” sambungnya.

Mugya? Astaga, malu banget. Ternyata cuma salah kamar… Apalagi ternyata itu kamar HanChul couple… AAAA~ Image ku pasti udah rusak sekarang… Kalo image ku rusak, ntar Hangeng oppa mikirnya aku ini cewek yang—

“MUGYAAAAAAAAAAAAA!” teriakku lagi.

+++

Sementara itu di cottage para gadis. Author’s POV.

Cho Ahra mengetuk pintu kamar Eun Mun a.k.a Wanda dengan agak keras. “Dongsaeng-ah, ayo bangun, bantulah aku sedikit…” ujarnya.

“Ngggghhhh…” erang Eun Mun.

Ahra mengernyit. Ya ampun ini kan sudah jam delapan pagi, masa dia belom bangun sih? AAH~ Dongsaeng babo~, batinnya.

“YAK! LEE EUN MUN! Ayo cepat bangun! Gawat darurat nih!” Hye Kyo a.k.a Dea mendadak berdiri di samping Ahra sambil menggedor-gedor pintu kamar Eunnie. Yeah, sekarang ia dipanggil Eunnie.

“Nggh. Ada apa sih? Aku masih ngantuk tau,” Eun Mun muncul dari pintu dengan suara bantal dan wajah bagai setan bangun tidur.

“Rae Soo belom pulang dari kemaren malem dia pergi! Kupikir dia akan kembali waktu malam, tapi ia tidak kembali sampai pagi ini!” kata Hye Kyo.

“MWO?? Astaga, yang patut dicurigai adalah Chullie dan Kyungie,” kata Ahra onnie sambil manggut-manggut. “Wae? Kenapa mereka?”

“Karena  member Super Junior yang disukai Rae Soo kan mereka berdua,”

“Terus?”

“AH BABOYA! Ayo cepat mandi dan kita ke cottage oppadeul Suju!” Ahra onnie berteriak sebel. Dongsaeng baboooooo~

++

“Sedari tadi dia begitu, Noona,” kata Ryeowook oppa sambil menunjuk Raesoo yang cemberut di pojok ruangan, mengenakan piama kusut dan sedang dihibur oleh Hangeng oppa. Sayangnya sama sekali tidak berpengaruh.

“Ah baboya~ Kan asik tidur sama Heesica onnie,” kata Wanda. Hye Kyo mendengus, dan tangannya pun melayang di udara.

“WADAW! Yakk! Ngapain dijitak sih?” protes Eun Mun saat satu jitakan melayang ke kepalanya.

“Justru kau yang babo! Ah~ Aku sediiiih~ Adik iparku ternyata sama babonya dengan adikku sendiri~ bagaimana iniii…” Ahra onnie berkata dengan [sok] melankolis.

Eun Mun cemberut.

“Rae Soo-yaa~! Sampai kapan kau mau begini? Ini hanya salah paham saja kaaan~ Aku tidak ngapa-ngapain kok~” Heechul oppa berkata pada Raesoo dengan wajah putus asa.

“Gwenchana oppa~ Aku tidak marah padamuuuu~ Aku hanya…”

“Hanya apa?” potong Soo Ra onnie. Raesoo menggigit bibir bawahnya. “Kau kenapa, Rae Soo?” tanya Hye Kyo. “Aku hanya…” ulang Rae Soo.

“Ah! Aku tau! Kau hanya terlalu gembira karena sempat tidur bersama Heesica unnie, kan?” Eun Mun nyeletuk dengan senyum lebar. TUK! Bantal sofa yang berat mendarat mulus di kepalanya. “Sialan kau!” ujar Heechul oppa padanya. Eun Mun cemberut lagi.

“Kalau begitu dia pasti terlalu gembira karena aku menang main game ini di level susah tadi,” kata Kyuhyun, nggak nyambung.

“AH BABO~YA! MAGNAE!” Heechul dan semua orang di ruangan itu kecuali Raesoo kompak berteriak.

Eun Mun kan magnae trio bebek.

“Aissh~! Jangan ramai doong~! Aku jadi kalah niiih!” omel Kyuhyun, tidak peduli teriakan mereka semua sebelumnya.

“Iya iya betul! Padahal tadi Kyu udah nyaris menang!” sambung Eun Mun yang sedari tadi mengamati Kyuhyun memainkan laptopnya.

“YAAAKK! EMBAHMU TARNO! DIAM KALIAN, MAKNAE!!” Kali  ini Hye Kyo yang teriak. Eun Mun dan Kyuhyun kompak cemberut.

“Aku hanya…” Rae Soo mengulang perkataannya. Perhatian semua orang kecuali dua babo magnae itu kembali fokus padanya.

“Katakan saja, Rae Soo!” desak Soo Ra onnie. “Jangan buat kami penasaran begini!” sambung Donghae oppa. “Ya ya ya betul!” sahut Key.

Lho, kok ada Key? “LHO KOK KAMU DISINI?” teriak Rae Soo sambil menunjuk Key. “Eh? Salah masuk  FF. Lupa, ffku kan sudah selesai. Tapi ntar ada lagi kok. Tunggu aku ya! Chu~ Ya sudah, bye everyone~”

*hening*

“Ehm, author…” kata si Hangeng yang sedari tadi diam.

Eh? Dia manggil saya ya? Apa?

“Lanjutin bego… Gak di ff gak di kenyataan lu bego banget sih,” kata si Eun Mun.

Hayah. Haik haik ayo lanjot.

“Aku hanya…” Rae Soo mengulangnya lagi. Nyukkie mendengus, bosan mendengar dua kata yang diulang-ulang itu.

“Cepat katakaaaan, Rae Soo-yaa!!” protesnya. Rae Soo meringis. “Aku hanya…” katanya.

Author: HEH RAE SOO BURUAN AH CAPEK NIH NULISNYA

Rae soo: SAPE JUGA YANG NULIS

Author: OH IYA GUE HAHA oke kembali. *digetok masal sama readers*

“Aku hanya malu soalnya sudah salah paham…” kata Rae Soo akhirnya.

Hening.

Semuanya melongo. Kecuali dua makhluk superbabo yang mojok berduaan.

Hening.

Dan mendadak…

“HOREEEEEEEE MENAAAANG! EUNNIE AKU CERDAS! AKU CERDAAAS! AKU TIDAK BABOO!!” Kyuhyun berteriak senang.

Dan hening kembali.

++

-Rae Soo POV-

“Aaa,” Heechul oppa menyodorkan sesendok salad buah padaku. Aku menggeleng. “Tidak mau, oppa. Aku tidak mau…” ujarku malas.

Aku maluuuuuu ._____.

“Kenapa sih? kau demam?” Heechul oppa mendekatkan wajahnya padaku, menempelkan dahinya.

OMONAAA!! Dekat sekaliiiiii >//////<

“Tidak kok… Lho lho… Kok mukamu merah? Kau benar benar tidak apa-apa?” tanya Heechul oppa panik. Aigooo~ Heechullie pabo yaa~ Ini gara gara kaaaaauuuuuu >_<

“Babo hyung, dia begitu karena wajahmu dekat sekali tadi!” Mendadak Kyuhyun lewat sambil menenteng PSP dan berkata dengan polosnya.

Heechul menaikkan alisnya. “Jinjja?” tanyanya sambil menggerak gerakkan alis najong.

Aku merengut, mengambil bantal di sampingku dan melemparnya pada Heechul.

Heechul oppa tertawa lepas, tanpa beban dan benar-benar nggak jaim…

Ya Tuhan. Ini kah yang disebut ke ajaiban?

++

“Sedang apa, oppa?” tanyaku pada Hangeng oppa yang sedang memandang ke laut yang sudah mulai cerah.

Hangeng oppa menoleh dan tersenyum padaku. “Kau sudah tidak malu lagi? Hehehe…” godanya.

“Ah oppa~! Jangan begitu dooooong!” protesku pada Hangeng oppa. Hangeng oppa tertawa dan mengacak rambutku.

“Heechul sudah bilang padamu?” tanya Hangeng oppa tiba tiba. “Bilang apa?” tanyaku. “Eh, belum ya? Baiklaah~ Aku beritahu tapi kau jangan bilang padanya ya…” kata Hangeng oppa sambil nyengir jahil.

“Jangan bilang kalau Heechul oppa mau ngerjain aku lagi,” kataku sambil menggembungkan pipiku kesal.

“Haha… Aniyo… Justru ini akan membuatmu terkejut… Dia mau menem—“

“ANDWAEYAA!” Mendadak Heechul oppa melompat ke pelukan Hangeng oppa dan dengan sadis nya membekap mulut si Hangeng oppa.

“Han kau sudah janji untuk tutup mulut!” protes Heechul oppa sambil mendelik. Hangeng oppa tertawa-tawa. “Ne~ Mianhaeyo~ Kau sih lama sekali bilang pada Rae Soo,” balas Hangeng oppa santai.

“Mwoya? Sebenarnya ada apa sih, oppa?” tanyaku, bingung. Heechul oppa menoleh dengan wajah merah padam.

“Aniyo, Rae Soo… Kau akan  tahu kalau waktunya sudah tepat. Jangan sekarang,” katanya tegas.

“Waeyo, oppa? Wajahmu merah,” kataku dengan polosnya. Hangeng oppa langsung ngakak, sementara Heechul oppa berusaha menyembunyikan rona wajahnya.

Kenapa sih? Aku nggak dikasih tau (=3=)

+++

Ryeowook memintaku tinggal di cottage Suju oppadeul (=3=)

Katanya cuma aku yang jago masak diantara trio bebek… Huuuuuh Aku dimanfaatkan.. .__.

Tapi nggak papa deh, daripada oppadeul keracunan habis makan masakan Eunnie atau Hye yang memang bikin eneg itu…

“Aku mau jajangmyun…” Kyuhyun nyelonong masuk ke dapur tempatku sedang menata meja makan.

“Jajangmyun saja makananmu… Kali ini aku mau memberimu satu makanan dari negaraku!” kataku, bangga.

“Memangnya apa?”

“Gado gado. Sayuran lhooo~!” godaku pada si maknae yang benci sayur ini.

“ANIYOOO!!! EUNNIE~! Help meee! Huhuhu…” Kyuhyun langsung lari dari dapur, mencari Eunnie yang memang masih di cottage oppadeul.

Dasar maknae manja (=3=) Makan aja pilih-pilih. Rasain tuh kalo jerawatnya nambah banyak. Xixixix…

“Ngapain kamu senyum-senyum sendiri?” Hye yang baru masuk ke dapur berkata sambil menaikkan alisnya setinggi mungkin padaku.

“Ah aniyo~” jawabku sambil tersenyum lagi.

++

“Fuaaaah. Kenyang! Enak banget nih! Baru kali ini aku makan makanan yang super enak kayak gini…” Heechul mendorong piringnya ke tengah meja makan sambil tersenyum puas usai menyantap gado-gado buatanku.

Sukurlah, oppadeul menyukai gado-gado-nya. Kyuhyun? Katanya dia dibuatkan mie instan sama Eunnie -_-

“Ne, enak sekali,” puji Shindong oppa sambil mengacungkan kedua jempolnya. “Kau ternyata berbakat jadi koki ya. Tidak seperti Hye,” Donghae oppa tertawa.

Hye merengut, dan aku hanya bisa tersenyum mendapatkan puja-puji dari oppadeul. Padahal ini kan makanan biasa saja di Indonesia. Hihihi…

“Aku mau beli cemilan di supermarket dekat sini. Kalian mau titip apa?” Kibum oppa beranjak dari duduknya dan mengambil kunci mobil di atas TV.

“Es krim~!”

“Cokelat~!”

“Soda!”

“Kripik kentang!”

“STOP! Stop! Sudah, aku hanya mau membelikan es krim, cokelat, soda, dan keripik kentang. Selebihnya, tidak!” kata Kibum oppa sebelum semua orang menyebutkan pesanannya.

“Tadi aku bikin tiramisu. Ada yang mau?” tawarku sambil mengangkat piring kotor bekas makan mereka.

“Aku mau!” Heechul oppa dan Hangeng oppa langsung berkata dengan cepat. “Pas sekali, aku hanya buat dua, hehehe… Habisnya ini tahap percobaan sih,” kataku sambil tersenyum.

“Jahatnya~” sindir Sungmin oppa. Aku menggembungkan pipiku kesal. “Kalau kau mau, oppa, minta saja lemon cake pada Eunnie! Hanya lemon cake satu-satunya makanan yang bisa dia masak dengan baik,” kataku jengkel.

Sungmin oppa hanya tertawa melihat wajahku dan Eunnie yang mendadak kecut.

“Biar kubantu,” Heechul oppa mendadak berdiri dari duduknya dan mengambil sebagian piring dari tanganku dan mendahuluiku ke dapur. “Ah oppa! Sudah biar aku saja yang mencuci,” kataku cepat.

Heechul oppa menjulurkan kepalanya dari dapur, dan tersenyum manis. “Kau yakin bisa mencuci semua piring yang banyak ini dengan cepat? Aku kan mau tiramisu buatanmu,” katanya.

Aduh. Wajahku kayak apa ya? Panas banget nih…

++

“Sudah cepat tembak diaaa,” Hangeng oppa menghampiri Heechul oppa yang sedang duduk sambil memakan tiramisu buatanku dengan riang.

“Ssst! Kalau dia dengar bagaimana?” Heechul oppa menaruh telunjuknya di bibirnya yang belepotan krim tiramisu.

Mereka lagi ngomongin siapa sih? Untung mereka nggak tau kalo aku sembunyi di balik lemari sambil nguping, hehehe…

“Dia tidak akan dengar, sudahlah. Kau itu lamban sekali Chul. Kalau kau tidak segera menembaknya, kuambil dia nanti…” kata Hangeng oppa. Aku mengernyitkan dahi. Mereka lagi ngomongin cewek ya? Siapa ya? Jadi penasaran.

“Aniyo! Geng, kau itu sahabatku! Semestinya kau bahagia untukku, bukannya merebutnya dariku!”  kata Heechul oppa sambil cemberut.

“Hahaha… Aku bercanda. Sudah cepat tembak dia. Dan traktir aku kalau ia menerimamu,” kata Hangeng oppa sambil mengedipkan matanya.

“Tenang saja! Doakan aku ya! Sore nanti aku akan melakukannya di depan matahari terbenam. Dan aku yakin ia akan menerimaku,” kata Heechul oppa optimis.

Aku tersenyum pedih di balik lemari. Siapa ya gadis itu? Hye atau Eunnie? Yang pasti bukanlah aku. Gadis manja yang memalukan. Tidak pantas untuknya.

++

Aku cemberut menatap Eunnie yang tengah menjahili Heechul oppa di sudut ruangan. Entah kenapa setiap melihat Eunnie dan Hye dekat-dekat Heechul oppa aku jadi ingin marah.

“Kau kenapa sih?” tanya Hye padaku. Aku menggelengkan kepala tanpa menjawab. Tapi Hye, seolah tahu apa yang kupikirkan hanya tersenyum penuh arti dan meninggalkanku cemberut sendirian menatap Eunnie yang sekarang malah tiduran di paha Heechul oppa.

HUSSHH! Rae Soo-ah. Eunnie kan pernah bilang kalau dia pingin punya kakak cowok kayak Leeteuk sama Heechul… Jangan negative thinking gitu…

Aku menghela nafas dan berlari ke arah pantai, menanti matahari terbenam. Menyaksikan oppa yang baru kusadari bahwa aku mencintainya menyatakan cintanya pada orang lain.

Hye Kyo, atau Eun Mun.

++

“Sedang apa kau disini?” tanya Heechul oppa padaku.

Aku menoleh dan langsung berbalik lagi, menatap matahari yang nyaris terbenam. “Hei, Rae Soo-ah. Kau marah padaku?” Heechul oppa duduk di sampingku, menatapku tajam.

Aku menggeleng sambil tetap berusaha fokus menatap matahari. Sialan. Kalau ada makhluk ganteng disebelahku seperti ini aku pasti mudah tidak fokus (=3=)

“Lalu kenapa kau diam saja setiap aku bertanya padamu?” tanya Heechul oppa. “Aniyo oppa. Aku hanya lelah,” jawabku bohong.

“Bohong,” kata Heechul oppa tegas. Aku tersentak. “Kau kenapa sih? Apa aku berbuat salah padamu?” tanya Heechul oppa dengan nada tajam.

Aku mendesah. “Tidak ada urusannya denganmu, oppa. Sudahlah, tinggalkan saja diriku dan pergilah menyatakan cintamu pada gadis beruntung itu,” kataku cepat.

“Aku? Menyatakan cinta? Gadis beruntung? Apa maksudmu, Rae Soo-ah?” tanya Heechul oppa bingung.

Aku diam. SIAAAL! Ternyata pengaruh cowok ganteng jelek juga! Aku jadi keceplosan…

“Kau mendengar percakapanku dengan Hangeng ya?” tanya Heechul oppa. Aneh, mendadak wajahnya memerah.

“Ne. Mianhaeyo oppa. Bukan maksudku. Tapi aku hanya penasaran dengan gadis beruntung itu. Ngomong-ngomong, siapa sih orangnya? Hye atau Eunnie?” tanyaku dengan sikap pura-pura antusias. Hatiku sakit. Sakit sekali.

“Kau,” jawab Heechul oppa dengan wajah masih merah.

Sialan. Aku pasti berhalusinasi mendengar Heechul oppa berkata ‘Kau’ atas jawabannya tentang pertanyaanku barusan.

“Kau, Rae Soo. Kaulah gadis beruntung itu, yang berhasil membuatku gelisah sepanjang hari memikirkanmu…”

Tuhan… Kumohon usir halusinasi yang terlalu manis ini! Huhuhu… Nanti aku bisa nangis kalau ternyata ini benar-benar hanya halusinasi…

“Saranghaeyo, Rae Soo. Jeongmal saranghaeyo, Han Rae Soo…”

Aneh. Kali ini aku mendengar suara Heechul oppa dengan jelas. Seperti bukan halusinasi ataupun khayalan aneh yang menyergapku.

“Rae Soo-ah… Jawablaaaah… Aku takut nih…” Heechul oppa menarik-narik tanganku seperti anak kecil.

“Aku?” tanyaku bingung. Astaga, jadi semua suara Heechul oppa tadi itu KENYATAAN??

“Rae Soo-ah… Kalau kau tidak menjawabku, aku akan menciummu!” ancam Heechul oppa.

“Noneun saranghamnida, oppa…” Aku berlari ke pelukannya dan terisak.

Tuhan, terimakasih. Terimakasih untuk membuatku mendapatkan pemuda setampan dan sebaik dirinya. Terimakasih banyak.

[FIN]

p.s akhirnya selese juga nih part. Maaf yo lama. Hehe. Habis ngurusin Do Re Mi dolo. Next FF dari aku adalaaaah = 7 Rainbows, Super Junior M chapter 6 [Cherry Blossom Murders]. TUNGGU YAA ;D

tags: heechul, hangeng, shindong, sungmin, donghae,

Park Bom’s Story [SongFic]

21 Agu

No matter what happens
Even when the sky is falling down
I’ll promise you
That I’ll never let you go

~

Sinar matahari menembus kaca mozaik di gereja tersebut. Membuat bayangan berwarna – warni yang indah. Sepasang pengantin berdiri di depan altar, mengucap sumpah yang akan mengikat mereka selamanya.

“Now I pronounce you as man and wife..”

Seorang pastur tersenyum lembut kepada pasangan berbahagia di depannya. Sang istri tersenyum bahagia begitu juga suaminya.

“You may kiss your bride..”

Chu. Buket bunga yang tadi di pegang gadis itu di lempar ke belakang. Pasangan tersebut bergandengan berlari pelan untuk keluar dari gereja.

Kini pasangan itu mengendarai sebuah skuter berwarna merah menyusuri hutan di dekat di gereja tersebut. Senyum bahagia terpancar di wajah mereka. Sang gadis kini menyandarkan kepalanya di punggung hangat pria tersebut.

Sang gadis merasa kini skuternya terbang melintasi langit malam yang dihiasi oleh bulan dan bintang. Gadis itu merasa dunia hanya milik mereka berdua.

+++

Dagu gadis itu bersandar di telapak tangan gadis tersebut. Satu kali, dua kali kepalanya mengangguk dengan mata terpejam. Akhirnya gadis itu terbangun dari mimpi indahnya. Gadis itu membayangkan wajah sang pria yang—tadi di dalam mimpinya—menjadi suaminya.

You, When I fell
you held me back up with an unfaltering gaze
And You, through those sad times
held my hands till the end of the world

Gadis itu keluar dari ruangan ia berada dan mengendarai skuternya menyusuri kota. Ia berhenti di depan sebuah toko buku. Matanya terhenti pada sebuah buku resep. Ia mengambil buku resep tersebut dan membacanya sekilas dan terhenti pada halaman cara membuat cupcake hias. Setelah membayar untuk buku tersebut, gadis itu kembali menyusuri kota dengan skuter merahnya.

Kali ini, ia terhenti di depan sebuah toko yang memajang pohon natal kecil. Ia tersenyum kecil.

“Sebentar lagi natal..” gumam gadis itu.

Esoknya, gadis itu pergi ke sebuah gereja dan dengan riang melangkah menuju sebuah pintu di bagian belakang gereja tersebut. Sang gadis mengintip dari jendela yang kacanya berhiaskan mozaik indah. Di dalam ruangan tersebut seorang pria yang sedang menulis di jurnalnya.

I might be a shabby person who has never done anything for you
But today, I am singing this song just for you
Tonight, within those two eyes and a smile
I can see the pains from protecting me

Gadis itu membuka pintu kamar tersebut dan menyembulkan kepalanya. Sang pria menoleh dan tersenyum pada gadis tersebut. Gadis itu memamerkan senyum manisnya kepada pria tersebut dan melambaikan tangannya.

Pria itu menyimpan jurnalnya.

“Bom.. Bommie-ah, annyeong” sapa pria itu.
“Joonkyung-ah, annyeong !” sapa Bom dengan riang.

Beberapa menit kemudian, mereka berdua duduk di depan televisi sambil memegang sebuah controller game.

“Kau tidak akan bisa menang dariku !!” ujar Bom percaya diri.
“Oh ya ?” tantang Joonkyung.

Beberapa saat kemudian..

“Yeah ! Aku menang !” teriak Joonkyung.
“Ahh.. Kau curang !” tuduh Bom sambil memukul pipi pria itu lembut.
“Huaa, aku tidak terimaaa~~~”
“Hahahaha, akui saja.. Aku memang lebih hebat darimu !”

Bom memasang tampang masam dan memukul Joonkyung pelan. Joonkyung tertawa menerima pukulan lembut yang diberikan oleh Bom.

You and I together. It’s just feels so right
Even though i bid you goodbye, to me this world is just you
You and I together, don’t ever let go of my hands
Even though i bid you goodbye, to me this world is just you

Kini Joonkyung dan Bom berada di teras lantai dua gereja tersebut. Pandangan Joonkyung lurus ke depan memikirkan masa depannya. Sedangkan Bom berdiri di belakang Joonkyung. Ia menatap Joonkyung yang sedang duduk di kursi rodanya dengan penuh perasaan sayang.

Joonkyung mengulurkan tangannya ke belakang. Bom juga mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan Joonkyung. Bom mendorong kursi roda Joonkyung ke depan sebuah tanjakkan di lantai dua tersebut. Ia duduk di tanjakkan tersebut sambil terus menggenggam tangan Joonkyung. Bom duduk sedangkan tangan kirinya menggenggam tangan Joonkyung dan tangan kanannya merangkul Joonkyung dari belakang. Mereka saling bertukar pandang. Walaupun bibir mereka hanya tersenyum, namun mata mereka saling berbicara.

Aku mencintaimu.

Our love has changed a bit by bit just like others
But don’t be sad
Hopefully I will be someone who you can trust like an old friend
and someone you can lean onto
I promise you that I’m be right here baby

Bom tersenyum sambil membaca buku resep yang ia beli beberapa hari yang lalu. Ia menggerakkan mixer untuk mencampurkan adonan icing untuk cupcake-nya. Dengan telaten, ia menghias cupcake tersebut dengan icing berwarna – warna warni. Di salah satu cupcake tersebut yang berhias icing putih, ia menuliskan “Merry Christmas” di atas cupcake itu.

Di lain tempat. Joonkyung sedang memandang ke bawah tangga. Dengan tatapan yang sedih ia memundurkan kursi rodanya dan tersenyum miris. Ia menelan ludahnya.

“Bommie, maafkan aku..” bisik Joonkyung.

Saat ia merasa sudah cukup jauh, ia mengacu kursi rodanya dengan kecepatan penuh. Kursi rodanya kini mendekati ujung jalan. Semakin dekat ke tangga.

Dan..

Kursi roda Joonkyung terjun bebas dari atas ke bawah. Namun, Joonkyung sendiri tergeletak di tanah. Jantungnya berdegup kencang. Ia merasa menyesali tindakan yang akan ia lakukan.

“Bommie, maafkan aku..” tangis Joonkyung.

I might be a shabby person who has never done anything for you
But today, I am singing this song just for you
Tonight, within those two eyes
And smile I can see the pains from protecting me

Joonkyung masuk ke dalam kamarnya. Ia mendapati Bom sedang tertidur pulas. Dengan perlahan, ia mengambil jurnalnya dari laci dan melukis Bom yang sedang tertidur pulas. Ia tersenyum melihat wajah Bom yang sedang tidur. Segera ia mengambil pensil dan menorehkan pensil tersebut ke halaman kosong di jurnalnya.

Di dalam mimpi Bom, ia bermimpi tentang masa depannya dengan Joonkyung. Mereka hidup bahagia dan memiliki anak. Bom tersenyum karena yang ia lihat dalam mimpinya..

Joonkyung juga tersenyum melihat senyum Bom yang mengembang. Perlahan, mata Bom mengerjap dan ia terkejut melihat Joonkyung yang sedang memandanginya.

“Ah ! Dimana aku ?” tanya Bom.
“Tadi kau tertidur setelah kita bermain..” jawab Joonkyung.

Bom melihat jurnal merah di meja samping tempat tidurnya dan mengambil jurnal tersebut.

“Apa ini ?” tanya Bom.
“Eiiittss~~ jangan baca !” ujar Joonkyung sambil menarik jurnal tersebut.
“Apa siiih ?? Ada apa sih di dalam sini ??” Bom menarik jurnal tersebut dari tangan Joonkyung.

Namun Joonkyung tidak menyerah untuk mengambil jurnal tersebut.

You and I together. It’s just feels so right
Even though i bid you goodbye, to me this world is just you
You and I together, don’t ever let go of my hands
even though i bid you goodbye, to me this world is just you

I close my eyes lightly whenever I feel lonely again
I no longer fear when your breath holds me
No one in the world can replace you
You are the only one in I’ll be there for you baby

Pada malam natal, Bom membawa Joonkyung sesuatu tempat. Saat sampai di tempat tersebut ia menutup mata Joonkyung. Setelah beberapa kali mengibaskan tangan di depan Joonkyung, ia yakin bahwa Joonkyung tidak bisa melihat apa – apa.

“Jangan buka matamu sampai aku bilang buka ya !” ujar Bom.

Bom menyalakan beberapa lampu dan mengambil sebuah kuas roll dengan pegangan yang panjang dan mulai mengecat dinding di depan Joonkyung.

“Ya ! Joonkyung ! Buka matamu !!” perintah Bom sambil terus mengecat.

Joonkyung membuka matanya perlahan. Ia bingung melihat Bom yang sedang mengecat sebuah dinding. Perlahan dinding tersebut menampakkan sebuah lukisan pohon natal yang besar. Salju yang turun menambah keindahan lukisan tersebut.

“Yaayy !! Merry Christmas, Joonkyung-ah !” teriak Bom sambil melompat – lompat.

Bom menyerahkan bungkusan berisi cupcake yang waktu itu ia buat kepada Joonkyung.

“Bommie-ah.. Gomawoyo..” senyum Joonkyung mengembang melihat tindakan Bom.

You and I together, It’s just feels so right
Even though i bid you goodbye, to me this world is just you
You and I together, don’t ever let go my hands
Even though i bid you goodbye, to me this world is just you

Angin berhembus lembut membelai wajah Bom dan meniup rambutnya. Ia berjalan sambil memegang sebuah jurnal merah di tangannya. Sinar matahari menusuk mata Bom, namun ia tampak tidak mempedulikannya.

Bom menarik nafas dalam – dalam. Menikmati udara segar sore itu. Ia berjalan ke arah skuternya dan berdiri di samping skuter itu. Memandang sekelilingnya. Ingatannya menerawang pada kejadian beberapa bulan yang lalu. Ia memeluk jurnal tersebut.

Ia menaruh jurnal tersebut di jok skuternya dan ia duduk di bawah pohon yang telah layu di lapangan tersebut.

Angin membuka jurnal tersebut dan berhenti pada halaman yang terdapat lukisan Bom yang sedang tertidur.

Di ujung lukisan tersebut terdapat tulisan tangan Joonkyung.

“Sorry I can not protect you..”

Just you and I
Forever and ever..

~end~

Yo ! Red ~♥ is back !! XD
FF ini terinspirasi dari MV lagu You and I – nya Park Bom
*unnie kembarku XDDD* lagunya bagussss banget gilaaa~~suaranya Park Bom di situ dalem banget~~~~~~~~

Emang sih, adegan FF ini ada yang gg sesuai ama MV nya, … kalo mo lebih jelas liat MVnya aja deh !! XDDD

poster credit : me 😛

yea, emang foto editan gw gg sekaliber orang lain .. tapi, itu aku udah berusaha = = gg ada inspirasi bikin posternya XD